rekanpenulis.com

blog rekan penulis pindahan dari getuk-wordpress-com dan nemu-wordpress-com

By : Ayu Saulina E

Secara definisi adalah subsidi dari pemerintah (atau badan swasta) kepada yang kurang mampu yang berasal dari mereka yang mampu (misal harga bensin naik banyak dengan maksud untuk memberi subsidi kepada pemakai minyak tanah yang umumnya rakyat kurang mampu; ongkos pasien kaya ditinggikan untuk membantu pasien kurang mampu):

Strategi ini untuk mengambil keuntungan dari suatu produk dengan cara mendapatkan subsidi dari produk yang lain.

Keadaan dimana harga yang dibebankan untuk satu produk disubsidi oleh penjualan dari produk yang lain. Keadaan ini mungkin menguntungkan apabila terdapat efek permintaan dari komplementer yang signifikan.

Sebagai contoh :

Misalkan model permintaan satu produk adalah Q = 10 – 2P + PO, dimana Q, P dan PO masing-masing adalah kuantitas yang diminta [Unit], harga produk itu sendiri [USD/Unit] dan harga produk substitusi [USD/Unit]. Harga produk substitusi atau PO = USD 2/Unit.

Elastisitas harga permintaan jika P = USD 1/unit :

QS = QD

Q = 10 – 2P + PO

Q = 10 – 2.1 + 2

Q = 10 – 4

Q = 6

clip_image002

Elastisitas harga permintaan jika harga produk gratis :

QS = QD

Q = 10 – 2P + PO

Q = 10 – 2.0 + 2

Q = 10 + 4

Q = 12

clip_image006

Elastisitas harga permintaan jika harga produk tak terhingga :

QS = QD

Q = 10 – 2P + PO

Q = 10 – 2.clip_image008 + 2

Q = 10 + clip_image008[1]

Q = clip_image008[2]

clip_image012

Elastisitas harga silang permintaan jika P = USD 2/unit :

QS = QD

Q = 10 – 2P + PO

Q = 10 – 2.2 + 2

Q = 10 – 4 + 2

Q = 10 – 6

Q = 4

clip_image014

By : Wina Karliana

Dalam menghadapi persaingan pasar yang ketat perusahaan-perusahan menerapkan strategi-strategi pemasaran yang beragam macam dan bentuknya dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, termasuk didalamnya adalah strategi penetapan harga (pricing strategy). Ada beberapa macam strategi penetapan harga (pricing strategy) yang dikenal dalam dunia bisnis, salah satunya adalah penetapan harga secara acak atau yang dikenal dengan istilah randomized pricing.

Penetapan harga acak (randomized pricing) adalah strategi dimana perusahaan secara konstan merubah dan menetapkan harga secara acak. Ketika sebuah perusahaan menerapkan strategi penetapan harga acak, maka konsumen tidak akan dapat membandingan harga-harga barang yang beredar di pasaran dan menentukan perusahaan mana yang memberikan harga termurah. Keadaan ini menurunkan tingkat dorongan konsumen untuk melihat keseluruhan harga yang ditawarkan untuk suatu produk ketika perusahaan menawarkan harga yang terendah.

Keuntungan lain dari strategi penetapan harga acak (randomized pricing) ini adalah mengurangi kemampuan perusahaan pesaing untuk memotong harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Perusahaan pesaing tidak akan dapat memprediksi secara akurat harga dasar dari barang yang diberi harga secara acak, sehingga mereka mengabaikan hal ini ketika mereka menentukan harga jual produk mereka untuk jenis barang yang sama.

Contoh penetapan strategi ini dapat kita temukan pada maskapai penerbangan yang sering merubah harga produk mereka secara acak. Ketika sebuah maskapai penerbangan mengetahui bahwa maskapai penerbangan pesaing mereka menetapkan harga Rp. 450.000,- untuk sebuah tiket perjalanan Semarang – Jakarta, maskapai penerbangan tersebut dapat menetapkan harga Rp. 400.000,- untuk sebuah tiket dengan rute yang sama untuk menaraik perhatian konsumen. Tapi ketika maskapai penerbangan menerapkan strategi penetapan harga acak, konsumen akan terpaksa membeli tiket segera ketika mereka melihat harga yang menurut konsumen rendah dan mereka tidak akan berfikir untuk membandingkan harga dengan maskapai penerbangan lainnya.

By : INDRA WARDHANA

1. What are auctions?

An auction is a means by which a price is established for a good or service. Buyers compete with one another in determining this price. There are four main types of auctions: English auction, first price sealed bid auction, second price sealed bid auction & Dutch auction. An English auction is probably the most common type of auction. In this auction the auctioneer starts the bidding with an opening bid. Potential buyers then bid the price up until only one buyer is left who is willing to pay the high price. The buyer who bids the highest wins the auction. The second type of auction is first price, sealed bid auction. In this auction, all potential buyers write their bid on a piece of paper at the same time. In this auction no potential buyer knows the bids of the other buyers as all bids are submitted at the same time. The auctioneer collects all of the bids and the buyer with the highest bid wins the auction. The third type of auction is second price, sealed bid auction. In this auction the bidding process is identical to that of the first price, sealed bid auction. The difference between the two is that in the second price, sealed bid auction, the bidder with the highest bid wins the auction, but is only required to pay the amount of the second highest bidder. In this auction the winner is better off than in the first price, sealed bid auction as he or she wins the bid but only has to pay the second highest bid amount to receive the good or service being auctioned. The last type of auction is a Dutch auction. In this auction the auctioneer starts the bidding with a high price that none of the bidders will agree to pay. The auctioneer then gradually lowers the price until the first buyer speaks up. At this point the auction is over. Finally, the winner’s curse is the realization that one’s winning bid exceeds that of all the other potential buyers. Obviously, in order to win an auction a bidder must submit the highest bid. Yet at the same time, the winner wishes to keep his or her bid as close to that of the second highest bidderin order to minimize over spending to win the auction.

2. What are some real world applications of auctions?

There are many real world examples of English auction, first price sealed bid auction, second price sealed bid auction & Dutch auction. As was stated above, the English auction is the most common type of auction. It can commonly be seen in real estate auctions and car auctions. Sotheby’s, the world’s second oldest international auction house which was founded in London in 1774 has used the English auction format during most of its existence. The first price, sealed bid auction is not as popular as that of the English auction, but there are still some examples of it in today’s world. The examples of this auction are seen in markets of refinancing credit and in foreign exchange. Second price, bid auctions are becoming more common in today’s society due to the internet auction website, eBay. While eBay does not use the sealed bid auction format since all bid history is available for bidders to see, its method of conducting its online auctions is that of a second price bid auction. Second price sealed bid auctions are very common in the stamp collecting business. Finally, there are some real world examples of Dutch auctions. Dutch auctions are most common in the Netherlands in auctioning off flowers. Also, often times car auctions are conducted in the Dutch auction format.

MEAN

Misalkan kita membeli saham Telkom saat ini. Kita berencana akan menjual saham tersebut setahun mendatang. Berapa return yang bisa kita peroleh tahun mendatang (return yang diharapkan dalam waktu setahun)? Setahun mendatang tentu saja sangat tidak pasti situasinya. Dengan kata lain, return kita satu tahun mendatang juga sangat tidak pasti. Setahun mendatang, kondisi ekonomi bisa baik, sehingga harga saham Telkom akan meningkat signifkan. Dalam situasi tersebut, return yang kita peroleh akan tinggi. Sebaliknya, kondisi ekonomi tahun depan bisa jelek, sehingga harga saham Telkom turun, dan kita akan mengalami kerugian (return yang negatif). Return yang diharapkan dengan demikian merupakan variabel random (variabel yang tidak pasti nilainya). Kondisi ketidakpastian tersebut akan memunculkan risiko. Risiko tersebut terjadi jika return yang terjadi tidak sesuai dengan return yang kita harapkan (menyimpang dari yang diharapkan). Sebagai contoh, misalkan kita mengharapkan memperoleh return sebesar 10%, tetapi ada kemungkinan return yang diperoleh adalah 5%. Dengan demikian ada kemungkinan return yang diperoleh menyimpang dari return yang diharapkan. Dalam situasi tersebut kita menghadapi ketidakpastian perolehan tingkat keuntungan, yang berarti kita menghadapi risiko.

Sebagai ilustrasi lanjutan, misalkan kita membeli saham Astra (A) saat ini dan berencana akan menjual saham tersebut setahun mendatang. Karena kondisi setahun mendatang tidak pasti, kemudian dikembangkan skenario mengenai kondisi ekonomi setahun mendatang sebagai berikut ini.

Tabel 1. Return Untuk Beberapa Skenario

Probabilitas

Return A

Return B

portfolio

Sangat Baik

0.1

25

-5

13

Baik

0.2

15

-1

8.6

Normal

0.4

10

4

7.6

Jelek

0.2

-2

12

3.6

Sangat Jelek

0.1

-10

20

2

 

Tabel di atas menunjukkan lima skenario ekonomi yang saya antisipasi: sangat baik, baik, normal, jelek, dan sangat jelek. Jika kondisi ekonomi sangat baik, harga saham Astra akan naik tinggi. Dalam situasi tersebut saya akan memperoleh return sebesar 25%. Hal yang sebaliknya terjadi jika kondisi ekonomi sangat jelek. Kemudian saya mengestimasi probabilitas (kemungkinan) masing-masing situasi tersebut akan muncul.

Hukum probabilitas mengatakan bahwa:

(1) probabilitas harus berada diantara 0 dengan 1 (inklusif),

(2) jumlah probabilitas untuk semua skenario adalah 1 (100%)

Contoh probabilitas sudah memenuhi kedua hukum probabilitas.

 

Tabel di muka menunjukkan bahwa return setahun mendatang tidak pasti (variabel random), bisa 25%, 15%, 10%, rugi 2%, atau rugi 10%. Dengan kata lain, ada risiko dari investasi tersebut.

Berapa tingkat keuntungan yang diharapkan dari investasi A? Meskipun ada unsur ketidakpastian, tingkat keuntungan yang diharapkan bisa dihitung dengan rumus sebagai berikut ini.

E[x] = q1 x1 + q2 x2 +…+qn xn,

dimana xi adalah payoff i, qi adalah probabilitas dimana payoff terjadi, dan q1 + q2 +…+qn = 1.

Rumus di atas menunjukkan bahwa return yang diharapkan untuk suatu aset adalah rata-rata tertimbang dari return individualnya. Pembobot dalam perhitungan tersebut adalah probabilitas untuk setiap skenarionya.

Dalam contoh di atas, tingkat keuntungan yang diharapkan untuk A adalah

E(xa) =  0,1 (25) + 0,2 (15) + 0,4 (10) + 0,2 (-2) + 0,1 (-10) = 8,1

Tingkat keuntungan yang diharapkan untuk saham A setahun mendatang adalah 8,1%.

Kolom sebelahnya menyajikan perkiraan tingkat keuntungan setahun mendatang jika kita membeli aset saham perusahaan gaplek (saham B). Jika kondisi ekonomi sangat baik, saham B justru merugi yaitu –5%. Jika kondisi ekonomi sangat jelek, saham B justru meningkat cukup banyak, sehingga returnnya menjadi 20%. Kenapa saham B bergerak berlawanan dengan kondisi perekonomian? Biasanya perusahaan bergerak searah dengan kondisi perekonomian. Jika kondisi perekonomian membaik, saham perusahaan akan meningkat, dan sebaliknya. Tetapi ada beberapa perusahaan yang mempunyai karakteristik yang terbalik, meskipun tidak banyak Sebagai contoh, pada kondisi perekonomian sangat jelak, orang tidak punya penghasilan yang cukup, dia akan makan gaplek Karena itu harga gaplek bisa meningkat dalam kondisi seperti itu. Sebaliknya, pada waktu kondisi perekonomian membaik, orang mempunyai penghasilan yang cukup, ia tidak lagi makan gaplek. Ia akan pindah makan nasi. Gaplek dalam kondisi perekonomian baik menjadi tidak laku. Tingkat keuntungan yang diharapkan untuk aset B bisa diitung dengan cara yang sama, sebagai berikut ini.

E(xB) =  0,1 (–5 ) + 0,2 (–1) + 0,4 (4) + 0,2 (12) + 0,1 (20) = 5,3%

Dalam contoh di atas, return yang diharapkan untuk A adalah 8,1%, sementara return yang diharapkan untuk B adalah 5,3%.  Return yang diharapkan A lebih tinggi dibandingkan dengan return yang diharapkan untuk B. Apakah hal tersebut berarti saham A lebih dipilih dibandingkan dengan saham B? Jawabannya adalah belum tentu, karena kita harus melihat risikonya sebelum memutuskan.

Dari ilustrasi diatas dapat disimpulkan bahwa mean dapat digunakan untuk menentukan tingkat keuntungan yang diharapkan dari suatu investasi namun mean hanya menyediakan informasi tentang nilai rata-rata dari variabel acak, tetapi tidak menghasilkan informasi tentang tingkat risiko yang berkaitan dengan variabel acak.

 

Varian dan standar deviasi

Apa yang dimaksud dengan risiko? Risiko bisa didefinisikan melalui berbagai cara, misal hal yang merugikan, kemungkinan kita mengalami kejadian yang tidak diinginkan (rugi, kecelakaan). Pengertian risiko yang sering digunakan di keuangan adalah kemungkinan suatu hasil menyimpang dari hasil yang diharapkan. Sebagai contoh, kita mengharapkan untuk memperoleh keuntungan 20%, tetapi ternyata kita hanya memperoleh keuntungan sebesar 5%. dicontohkan ada distribusi dari dua investasi yaitu A dan B. Keduanya mempunyai tingkat keuntungan yang diharapkan yang sama { E(RA) = E(RB)}. Investasi mana yang risiko lebih tinggi? Diumpamakan bahwa investasi A mempunyai kemungkinan menyimpang dari hasil yang diharapkan yang lebih tinggi dibandingkan dengan investasi B. Investasi A bisa menghasilkan keuntungan sangat tinggi (jauh ke kanan), tetapi bisa juga menghasilkan keuntungan sangat rendah, rugi (jauh ke kiri). Investasi B tidak seekstrim investasi A. Observasi tersebut menunjukkan bahwa risiko A lebih besar dibandingkan dengan risiko B.

Sebagai ilustrasi lanjutan, antara pegawai negeri dengan pengusaha, mana yang mempunyai risiko yang lebih besar? Nampaknya pengusaha mempunyai risiko yang lebih besar. Jika seorang pengusaha sukses besar, maka ia bisa menjadi milyarder. Tetapi jika gagal, ia bisa kehilangan segalanya (rugi besar). Pengusaha mempunyai penyimpangan (dispersi) yang sangat besar. Pegawai negeri mempunyai penyebaran yang lebih kecil. Gaji pegawai negeri dibayarkan oleh pemerintah dan relatif tetap besarnya. Ia tidak bisa menjadi milyarder, tetapi juga tidak akan rugi besar. Dengan kata lain, risiko pengusaha lebih besar dibandingkan dengan risiko pegawai negeri.

Untuk mengukur besar kecilnya kemungkinan penyimpangan dari hasil yang diharapkan, kita bisa menggunakan tehnik statistik yang disebut deviasi standar (standard deviation). Untuk menghitung deviasi standar, kita harus menghitung varians terlebih dulu. Rumus perhitungan varians adalah sebagai berikut ini.

s2 = q1 (x1- E[x])2 + q2 (x2- E[x])2 +…+qn(xn- E[x])2

dari ilustrasi diatas dapat disimpulkan bahwa standar deviasi digunakan untuk mengukur besar kecilnya penyimpangan dari hasil yang diharapkan atau dari MEAN. Sedangkan standar deviasi sendiri didapatkan dari varians dimana standart deviasi merupakan akar dari varians.

penulis : Rinanti

Peak Load pricing adalah salah satu ilmu ekonomi yang berusaha untuk memberikan beban lebih tinggi atau harga yang lebih tinggi di saat-saat tertentu dengan tujuan untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya dengan memeperhatikan keefisienan waktu dan tenaga.

Peak Load pricing dapat ditemui pada banyak hal. Hal yang paling sering kita temui adalah pembebanan listrik. Listrik pada saat jam sibuk biasanya dibebankan harga lebih tinggi alasannya untuk mendapatkan pemasukan yang lebih baik dan masyarakat bisa lebih efisien dalam menggunakan listrik. Pada saat jam istirahat misalnya jam tiga pagi penggunaan listrik lebih sedikit sehingga tarif dasar pun diturunkan oleh PLN. Pada saat jam sibuk perusahaan tidak dapat memenuhi semua permintaan konsumen sehingga diberikan beban yang lebih tinggi dalam waktu itu sehingga sanggup meningkatkan hasil/ pemasukan.

Contoh peak Load pricing yang lain adalah penggunaan alat transportasi misalnya pesawat atau kereta api. Penggunaan dua transportasi ini biasanya padat pada saat akhir pecan maupun pada saat musim liburan hari besar. Perusahaan yang mengelola jasa ini biasanya memanfaatkan momentum ini untuk menghasilkan laba yang lebih baik yaitu dengan menaikkan tarifnya. Harga tiket alat transportasi akan naik pada saat momen-momen itu. Kesempatan ini digunakan oleh pengusaha untuk menghasilkan laba yang lebih baik.

Hal yang lebih sering kita temui dan itu bersifat sederhana adalah permintaan barang-barang pada saat musim lebaran. Pada saat musim lebaran biasanya permintaan naik dan banyak, sedangkan jumlah pekerja mulai menurun karena sebagian pekerja mudik lebaran. Biaya untuk membayar pekerja dipastikan lebih besar dan mahal tetapi pengusaha menetapkan prinsip peak load pricing sehingga berani membayar mahal sehingga hasil yang akan didapatkan akan tetap banyak. Dengan banyaknya hasil yang didapatkan dan penjualan juga meningkat maka akan sanggup membayar karyawan yang bekerja. Di sisi lain hasil yang didapatkan juga meningkat, incomne perusaahaan juga akan jauh lebih banyak.

Di sisi lain ketika suasana tidak ramai maka permintaan akan menurun, dengan kebijakan peak load pricing ini maka ada kemungkinan bahwa dengan harga yang rendah maka permintaan akan naik sehingga dalam masa yang seharusnya tidak ramai misalnya tiket pesawat pada hari kerja pun tetap laku dan masih ada pemasukan bagi perusahaan.

Banyak sekali keuntungan dari peak load pricing ini, di antaranya : meningkatkan efisiensi penggunaan fasilitas, meningkatkan permintaan pada periode atau masa yang tidak ramai dan menekan permintaan pada periode yang ramai. Dengan adanya kebijakan ini maka ditarik kesimpulan : harga pada periode peak lebih tinggi daripada biaya marjinal pada jangka panjang, harga pada periode off-peak sama dengan biaya marginal jangka pendek, pada kapasitas optimum penerimaan total sama dengan biaya total sehingga para konsumen pada periode peak menanggung seluruh biaya kapasitas.

penulis : Franky Husen

Berbagai jenis lelang yang utama
* Lelang Inggris
* Lelang Pertama-harga, penawaran tertutup
* Lelang Kedua-harga, penawaran tertutup
* Lelang Belanda

Pengertian Lelang Belanda

• Sebuah harga turun lelang.
• lelang dimulai dengan harga yang diminta tinggi.
• Bid menurun sampai satu penawar yang bersedia untuk membayar harga yang dikutip.
• strategis setara untuk lelang pertama-harga.

Informasi Struktur

• Informasi Sempurna
* Tiap bidder tahu persis item bernilai.
• private nilai Independen
* Bidder tahu penilaian mereka sendiri item, tapi tidak valuasi penawar lain.
* Valuasi bidder tidak tergantung pada orang-orang dari penawar lainnya.
• Afiliasi (atau berkorelasi) nilai perkiraan
* Bidder tidak tahu penilaian mereka sendiri item atau valuasi orang lain.
* Bidder menggunakan informasi mereka sendiri untuk membentuk sebuah perkiraan nilai.
* Perkiraan Nilai yang berafiliasi: perkiraan penawar yang lebih tinggi, para semakin besar kemungkinan bahwa penawar lain juga memiliki perkiraan nilai tinggi.
* Nilai-nilai umum adalah kasus khusus di mana yang benar (tetapi tidak diketahui) nilai barang adalah sama untuk semua peserta tender.

Penawaran Optimal Strategi dalam Lelang Belanda

• Jika ada penawaran yang semuanya memandang valuasi menjadi merata (atau seragam) didistribusikan antara valuasi terendah mungkin L dan valuasi tertinggi dari H, maka tawaran optimal untuk pemain risiko-netral yang penilaian sendiri adalah v adalah

b = v – vL/n

penulis : Bayu

  1. Latar Belakang
    Pasar merupakan tulang punggung perekonomian masyakat, baik masyarakat yang berada dikalangan kelas bawah ataupun masyarakat yang berada di kalangan kelas atas. Pasar juga merupakan proses hubungan timbal antara penjual dan pembeli untuk mencapai kesepakatan harga dan jumlah suatu barang/jasa yang diperjual belikan. Semua unsur yang berkaitan dengan hal ekonomi berada di pasar oligpoli mulai dari unsur produksi, distribusi, ataupun unsur konsumsi.
    Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan permainan pasar, dimana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
    Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk ke dalam pasar dan juga perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga jual, sehingga menyebabkan kompetisi harga diantara pelaku usaha yang melakukan praktek oligopoli menjadi tidak ada.
  2. Pengertian Pasar Oligopoli
    Istilah oligopoli berarti beberapa penjual. Beberapa penjual di dalam konteks ini maksudnya dimana penawaran satu jenis barang dikuasai oleh beberapa perusahaan. Beberapa dapat berarti paling sedikit 2 dan paling banyak 10 sampai 15 perusahaan. Pasar oligopoli merupakan suatu struktur pasar dimana hanya terdapat beberapa produsen yang menghasilkan barang-barang yang bersaing. Jika pasar oligopoli hanya terdiri dari dua perusahaan saja maka disebut duopoli.
    Dalam oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sendiri sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, dimana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung pada tindak-tanduk pesaing mereka, sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga dan sebagainya dapat dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
    Praktek oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk ke dalam pasar. Perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal dibawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga jual terbatas sehingga menyebabkan kompetisi harga diantara pelaku usaha yang melakukan praktek oligopoli menjadi tidak ada.

Model Cournot (Cournot Model)

Model Cournot yang disebut juga duopoli dikembangkan oleh Augustin Cournot seorang ahli ekonomi berkebangsaan Perancis pada tahun 1838. Asumsi utama dari model ini adalah bahwa jika perusahaan telah menentukan tingkat produksinya, ,aka perusahaan tersebut tidak akan mengubahnya. Atas dasar asumsi inilah perusahaan pesaingnya akan menentukan tingkat produksinya. Dalam pasar duopoli hanya terdapat dua perusahaan yang menjual produk yang homogen, dengan demikian hanya terdapat satu harga pasar. Harga pasar ditentukan oleh keseimbangan antara jumlah total output yang dihasilkan oleh dua perusahaan dengan permintaan pasar.

Ada beberapa sumsi dalam metode cournot :

  • Semua perusahaan menghasilkan barang / jasa homogen
  • Dengan demikian harga merupakan fungsi dari total supply ( sama untuk setiap perusahaan )
  • Perusahaan memutuskan jumlah yang akan di produksi secara simultan
  • Kuantitas merupakan variabel strategi

Contoh perilaku oligopoli :
Misalkan fingsi demand
    P = 30 – Q dimana Q = Q1 + Q2
Misalkan Q1 = Q2 dan average (AC) serta marginal cost (MC)
    AC = MC =12
Profit maximasing output MR = MC
TR Perusahaan 1
    R1 = PQ1 = (30 – Q) Q1
    R1 = (30 – (Q1 + Q2) Q1 = 30Q1 – Q1² – Q1Q2
MR Perusahaan 1 = MR1 = 30 -2Q1 –Q2
Jika MC = 12 maka Q1 = 9 – ½ Q2. Yang merupakan fungsi reaksi perusahaan 1
Dengan cara yang sama di peroleh fungsi reaksi perusahaan 2 :
    Q2 = 9 – ½ Q1
Dengan menggunakan kedua persamaan tersebut di peroleh :
    Q1 = 6, Q2 = 6, P = 18

Oligopoly_Cournot (Bayu)

Definisi :

“Diskriminasi harga adalah menaikkan laba dengan cara menjual barang yang sama, dengan harga berbeda untuk konsumen yang berbeda atas dasar alas an yang tidak berkaitan dengan biaya” . ( William A. McEACHERN : 2001 : 149 ).

Syarat dan Kondisi :

  1. Barang tidak dapat dipisahkan dari pasar satu ke pasar yang lain.
  2. Sifat barang dan jasa memungkinkan untuk melakukan diskriminasi harga.
  3. Sifat permintaan dan elastisitas permintaan di masing – masing pasar haruslah sangat berbeda.
  4. Kebijakan diskriminasi harga tidak memerlukan biaya yang melebihi tambahan keuntungan yang diperoleh tersebut
  5. Produsen dapat mengeksploiter beberapa sikap tidak rasional konsumen.

Jenis Diskriminasi Harga :

  1. Diskriminasi harga tingkat pertama : berkaitan dengan penjualan setiap unit produk secara terpisah dan mengenakan harga setinggi mungkin bagi setiap unit produk yang dijual.
  2. Diskriminasi harga tingkat kedua : mengacu pada penentuan harga per unit yang sama untuk sejumlah atau sekelompok produk tertentu yang dijual kepada setiap pelanggan, kemudian memberikan harga yang lebih murah per unitnya untuk sejumlah atau sekelompok tambahan produk tersebut;
  3. Diskriminasi harga tingkat ketiga : mengacu pada penentuan harga yang berbeda – beda untuk produk yang sama dalam pasar yang berbeda, sehingga pendapatan marginal per unit terakhir yang dijual dalam setiap pasar sama dengan biaya marginal untuk menghasilkan

Contoh Diskriminasi Harga :

  1. Penentuan harga oleh perusahaan telepon, tarif lebih tinggi pada jam jam sibuk, tarif lebih tinggi untuk bisnis daripada rumah tangga
  2. penentuan harga oleh perusahaan energi (PLN, PGN) harga rendah untuk rumah tangga, tinggi untuk kalangan bisnis.
  3. penentuan harga menginap di hotel yang lebih murah untuk acara – acara rapat dsb.

Kebijakan Diskriminasi Harga :

  1. Kebijakan diskriminasi harga yang dilakukan oleh perusahaan monopoli pemerintah.
  2. Misalnya adanya tarif yang berbeda antara tarif listrik dan tarif listrik perusahaan.
  3. Kebijakan diskriminasi harga oleh jasa – jasa profesional.
  4. Kebijakan diskriminasi harga di pasar internasional.

Diskriminasi harga terjadi saat produsen memberlakukan harga yang sama karena alasan yang tidak ada kaitannya dengan perbedaan biaya, tetapi tidak semua perbedaan harga mencerminkan diskriminasi harga. ( Richard G.Lipsey : 1997 : 45 ).

Persamaan Diskriminasi Harga :

MR11 == MR22 == MR == MC
TR == TTR11 ++ TTR22
?==?TTR?__11++ ?TTR?__22—TTC

penulis : Ibnu

by Galuh Trianto W

Asimetri informasi, yang terjadi ketika penjual tahu lebih banyak tentang produk tersebut daripada sang pembeli. Lemon adalah istilah slang Amerika untuk sebuah mobil yang ditemukan rusak hanya setelah mobil tersebut dibeli. Akerlof, Michael Spence, dan Joseph Stiglitz bersama-sama menerima Nobel Memorial Prize dalam Ilmu Ekonomi pada tahun 2001 untuk penelitian mereka terkait dengan informasi asimetris. Makalah Akerlof ini menggunakan pasar untuk mobil digunakan sebagai contoh dari masalah ketidakpastian berkualitas. Ini menyimpulkan bahwa pemilik mobil yang baik tidak akan menempatkan mobil mereka di pasar mobil bekas.

Informasi Asimetris

Situasi yang ada ketika beberapa orang memiliki informasi yang lebih baik daripada yang lain.

Contoh: Insider trading

Dua Jenis Informasi Asimetrik

  • Karakteristik Tersembunyi

Hal salah satu pihak dari transaksi tahu tentang dirinya sendiri, tetapi tidak diketahui oleh pihak lain.

  • Tindakan Tersembunyi

Tindakan yang diambil oleh salah satu pihak dalam suatu hubungan yang tidak dapat diamati oleh pihak lain.

Seleksi Merugikan

Situasi di mana individu memiliki karakteristik yang tersembunyi dan di mana hasil proses seleksi di pusatkan pada individu dengan karakteristik yang tidak diinginkan.

Contoh

  • Pilihan rencana medis
  • Pinjaman dengan bunga tinggi
  • Asuransi mobil untuk driver dengan catatan buruk

Moral Hazard

  • Situasi di mana satu pihak dalam kontrak mengambil tindakan tersembunyi yang menguntungkan dirinya dengan mengorbankan pihak lain.
  • Contoh

n        Masalah principal-agent

n        Perawatan yang dilakukan dengan mobil sewa

Kemungkinan Solusi

  1. Signaling
  • Upaya oleh pihak diinformasikan untuk mengirim indikator teramati dari karakteristik tersembunyinya untuk pihak kurang informasi.
  • Supaya bekerja, sinyal tidak harus mudah ditiru oleh jenis lainnya.
  • Contoh: Pendidikan
  1. Penyaringan
  • Upaya oleh pihak kurang informasi memilih individu sesuai dengan karakteristik mereka.
  • Sering dilakukan melalui perangkat seleksi diri

Sebuah mekanisme di mana pihak terinformasi disajikan dengan satu set pilihan, dan pilihannya mereka memilih mengungkapkan karakteristik tersembunyi mereka kepada pihak kurang informasi.

  • Contoh: Diskriminasi Harga

 

by : Andik Kuncoro

Commodity Bundling adalah adalah mengemas berbagai macam komoditi (barang/produk)
menjadi satu kemasan, dan menjualnya kedalam satu harga.
Contoh :
1. Biro perjalanan menjual satu paket wisata yang termasuk : tiket pesawat, hotel dan
makanan.
2. Komputer, Monitornya dan Softwarenya di jula dalam satu paket
3. Mobil dijual dengan satu harga, termasuk AC, power steering, perseneling otomatis
Tabel Commodity Bundling
Customer Valuation of Computer Valuation of Monitor
1 $ 2.000 $ 200
2 $ 1.000 $ 300
Misalkan konsumen 1, mau membeli kalau harga komputer $2000, tetapi hanya mau membeli monitornya dengan harga $ 200. Konsumen 2, mau membeli komputer hanya dengan harga  $1500, tetapi mau membeli monitor dengan harga $300. Manajer perusahaan komputer tidak tahu identitas dari masing masing konsumen, sehingga dia tidak bisa menerapkan harga diskriminasi (price discrimination), yaitu membebankan harga yangt berbeda untuk setiap konsumen.
Apabila manajer menjual komponen komputer dan monitor berbeda, satu harga untuk
komputer (Pc) dan satu harga lagi untuk monitor (Pm). Dengan asumsi cost komputer dan
monitor dianggap = 0. Maka apabila manajer membebankan harga $2000 untuk sebuah
komputer, dia akan hanya menjual pada konsumen 1. Dan manajer mendapat hanya $2000.
Kalau membebankan harga $1500, konsumen 1 dan 2 akan membeli komputer, manajer akan dapat $ 2x $1500 = $3000. Jadi keuntungan maksimum 1 komputer hanya $1500.
Sama halnya bila membebankan harga monitor harga $200 konsumen 1 dan 2 meu membeli monitor. Perusahaan mendapat $400, sehingga maksimum laba adalah $200 per monitor. Dari tabel menurut perhitungan kalau yang terendah untuk komputer dan monito
harganya $1500 dan monitor $200 (menjual 2 komputer dan 2 monitor). Sebenarnya manajer bisa mendapatkan untung lebih besar apabila komputer dan monitor dijual dalam bentuk paket (bundling) komputer dan monitor, dan
Karena kalau menjual komputer dan monitor 2x $1500 + 2x$200 = $3400,
paket 2x $1800 =$3600, jadi manajer mendapat tambahan keuntungan +$200.
Contoh Aljabar :
P = 10 – 2Q
C(Q) =
Contoh Grafik
Jumlah Optimal Untuk Paket 4 Unit
$300, hanya konsumen 2 yang membeli. Kalau
monitor manajer akan dapat $3400 yaitu komputer
menjual dengan harga $1800 per paket. Mengapa?
Harga Optimal Untuk Paket
harga diambil r 3400,- kalau dijual dalam
$24